News

5 Tarian Tradisional dari Jawa Tengah yang Paling Populer

14 Hari 14 Jam lalu 33 views
5 Tarian Tradisional dari Jawa Tengah yang Paling Populer

Sebagai salah satu provinsi terbesar di Pulau Jawa, Jawa Tengah memiliki potensi budaya dan kesenian yang luar biasa beragam. Salah satunya adalah tarian tradisional Jawa. Kemajemukan penduduk yang mendiami wilayah Jawa Tengah pun turut membawa keberagaman tarian yang ada disini.


Dari sekian banyak tarian daerah yang ada di Indonesia banyak yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. Lantas, apa saja tarian tradisional yang berasal dari Jawa Tengah? Berikut ulasan lengkapnya.


Tari Gambyong



Sifat dan karakter orang Jawa Tengah yang dikenal lembut dan sopan dalam bertingkah laku tercermin dalam tari gambyong. Menurut sejarah, tari gambong lahir dari seorang penari perempuan bernama Sri Gambyong. Pada waktu itu, ia secara khusus diundang oleh Sri Sunan Pakubuwana untuk menciptakan sebuah tarian penghormatan bagi tamu.


Ada pula yang menyebut kalau tari Gambyong merupakan tarian rakyat yang biasa digunakan dalam upacara adat. Seperti ritual sebelum bercocok tanam, ritual pada saat panen, dll. Sebelum pihak keraton Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya, Tari Gambyong ini merupakan tarian rakyat sebagai bagian dari upacara ritual sebelum bercocok tanam agar diberikan kesuburan dan di berikan panen yang melimpah.


Sebagai tarian penghromatan kepada tamu, tari Gambyong melambangkan sebuah kegembiraan. Tari yang berasal dari Surakarta ini biasanya di lakukan oleh beberapa wanita. Layaknya tarian Jawa lainnya, tari Gambyong lebih menitikberatkan pada gerakan tangan, tubuh, kepala dan kaki. Dalam pementasannya, Tari Gambyong menggunakan gong, kenong, gambang dan kendang sebagai musik pengiring.


Tari Bedhaya Ketawang



Kota Surakarta cukup banyak menyumbang kesenian yang berasal dari Jawa Tengah. Selain Tari Gambyong, Tari Bedhaya Ketawang juga berasal dari Surakarta. Tari Bedhaya Ketawang sendiri merupakan sebuah tarian sakral Keraton Surakarta. Berbeda dengan tarian-tarian yang lain, Tari Bedhaya Ketawang tidak bisa dipentaskan kapan saja.


Biasanya tarian ini hanya dipentaskan untuk acara-acara resmi seperti saat Penobatan Raja dan Hari Peringatan Kenaikan Tahta (Tingalan Dalem Jumenengan). Uniknya lagi, tidak semua orang boleh dan bisa membawakan tarian ini. Pasalnya, tarian yang penuh makna simbolis dan filosofis ini memiliki persyaratan khusus bagi para penari. Salah satunya, jumlah penari harus berjumlah sembilan orang yang kesemuanya adalah perempuan suci dan tidak haid.


Tari Beksan Wireng 



Tari Beksan Wireng adalah tarian dari Kesultanan Surakarta atau Solo, Jawa Tengah. Menurut sejarah, tarian ini diciptakan oleh Prabu Amiluhur pada tahun 1814 dengan tujuan agar putranya turut aktif dalam keprajuritan kerajaan. Selain itu tujuan diciptakannya tarian ini iaitu guna menyemangati para perajurit perang supaya mereka lebih mahir dan unggul dalam berperang.


Tari Beksan Wireng biasanya dibawakan oleh 2 (dua) orang penari laki-laki dengan kostum layaknya perajurit perang. Tanpa adanya dialog dan tidak pula menggambarkan cerita tertentu yang menyertainya. Dalam perkembangannya, Tari Beksan Wireng terbagi menjadi 6 jenis yaitu Jemparing Ageng, Panji Sepuh, Dhadhap Kreta, Panju Anem, Dhadap Kanoman dan Lhawung Ageng.


Tari Kuda Lumping



Dari sekian banyak tarian yang ada di Jawa Tengah, tari kuda lumping mungkin menjadi tarian paling populer bagi masyarakat Jawa Tengah. Pasalnya, tarian ini dapat dengan mudah dijumpai masyarakat tanpa adanya waktu-waktu khusus.Dikenal dengan nama Jathilan atau Jaran Kepang, tarian ini menampilkan sekelompok prajurit laki-laki yang mengunggang kuda tiruan.

Tidak ada gerakan khusus dalam tarian ini, para penari hanya berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik. Dalam pertunjukannya, tari kuda lumping syarat akan hal-hal mistik. Seperti adanya aksi kekebalan tubuh, kesurupan hingga memakan benda-benda tak wajar seperti beling. Tak jarang dalam aksinya para penari ini juga menyertakan kemenyan dan sesajen yang dibakar.


Gambir Anom 



Salah satu tarian dengan tema percintaan yang paling populer bagi masyarakat Jawa Tengah adalah tari Gambir Anom. Tarian ini menggambarkan perjalanan cinta seorang tokoh pewayangan bernama Irawan putra Arjuna atau Gambir Anom yang tengah jatuh hati dengan seorang wanita. Seperti kisahnya, gerakan yang ada dalam tarian ini juga syarat dengan sikap seseorang yang tengah jatuh cinta, seperti berdandan, mengatur rambut, memakai bedak, bercermin, merapikan pakaian hingga mondar-mandir seolah-olah sang pujaan hati ada di hadapannya.





Editor:
avatar-user-profile-vivo
zahranurfitriana
8 hari lalu

baru tau tar jawa tengah banyak banget 

mantap infonya

Balas
avatar-user-profile-vivo
lyaelshe
2 hari lalu

Saya bangga, semoga kebudayaan tetap terlestarikan

Balas
icon-wheeler-vivo